Lantai Dua Tak Mau Berbagi Manisnya, Bagi Mereka Yang Minim Modal

 

Relokasi bukan menjadi hal terbaik bagi mereka yang sudah bertahun-tahun berdagang burung di area Jl.Kartini Semarang. Disepanjang taman dan trotoar semula banyak sekali pedagang-pedagang berderet, mulai dari berdagang burung, sangkar, aneka ragam satwa dan juga pernak-pernik. Mereka menggantungkan hidup dengan berdagang, dan menikmati hasilnya meski dengan modal yang minim. Tak sedikit juga dari merekayang hanya bermodal lisan menawarkan burung dagangan milik kawannya dengan kesepakatan harga dan perjanjian. Banyak sekali yang bisa dilakukan oleh mereka ketika pasar mulai ramai.

Banyak sekali yang dijual di sini, tidak hanya burung saja beberapa satwa lain juga bisa diperjual belikan seperti, kucing, anjing, reptil dan hewan-hewan unik lainnya. Ramainya pengunjung membuat apa saja bisa dijual di sini. Kondisi tersebut tentunya petugas parkir yang di sibukan menata keluar masuknya kendaraan pengunjung. Tiap harinya tak pernah sepi pendapatan dalam sehari mereka selalu punya banyak sisa setoran untuk di bawa pulang. Apa saja bisa dijual di tempat tersebut selagi masih berhubungan dengan kebutuhan laki-laki sperti alat-alat rumah, jamu, makanan dan juga rokok. Semua sudah kebagian rizki di bidang masing-masing tak ada kecemburuan dari apa yang mereka dapatkan.

Tak perlu modal yang besar untuk mencari penghasilan pada saat itu bahkan banyak juga yang hanya bermodal tenaga dan keahlian saja. Pengrajin sangkar bambu menjadi pekerjaan yang tidak begitu membutuhkan modal yang besar namun sangat besar keutungannya, setimpal dengan keahlian yang susah payah mereka pelajari. Dengan harga yang tidak begitu mahal sangkar bambu menjadi alternatif untuk mereka yang membawa burung yang dibeli, karna beberapa pedagang hanaya menjual burung saja ketika stok melimpah. Dalam sehari saja para pengrajin sangkar bambu bisa menjual 10 – 20 sangkar dengan berbagai ukura. Dengan begitu udah terbayang ramainya pasar burung pada saat itu. Pedagang rokok keliling tak pernah mengeluh sepi pembeli. Karna rata-rata pengunjung yang datang laki-laki yang mayoritas adalah perokok. Tentunya tak perlu susah mencari, pedagang rokok sudah menghapiri menawarkan yang ia dagangkan.

Pedagang jamu juga menjadi salah satu yang dicari oleh para pekerja yang mungkin hanya sekedar melepas lelah sambil menikmati aneka ragam kicau burung di tengah jam istirahat. Untuk para pekerja Pasar Karimata bisa menjadi penghilang stres ketika di tempat kerja dengan menikmati indahnya kicau burung meski pun tidak hoby memelihara. Penjual pakan burung tentunya juga mengambil peran penting karna disitu pembeli bisa mendapatkan pilihan berbagai pakan burung dengan berbagai pilihan salah satunya produk Ebod Jaya yang banyak sekali dicari. Dengan aneka ragam pilihan produk dan juga jenis pakan yang dibutuhkan pembeli tak perlu pusing-pusing mencari hanya saja harga yang mejadi perbandingan karna tidak semua pedagang menjual dengan harga yang sama.

Itu semua bisa kita temukan ketika pasar masih berada di sepanjang Jl.Kartini, semua sudah berbalik 180 derajat dibanding dahulu. Kini manisnya Jl.Kartini tak lagi dirasa para pedagang, karna terpaksa harus direlokasi ke lantai 2 Pasar Karimata paska proyek pembenahan fungsi taman kota. Kondisi lantai 2 yang sempit dan sangat tertutup tak lagi menarik minat bagi sebagian orang. Dengan begitu jumlah pengunjung sangat berkurang hingga 70%. Pemandangan seperti itu tentunya sangat tidak indah bagi mereka yang minim modal atau hanya bermodal keahlian saja. Sepinya pengunjung sangat berpengaruh dengan pendapatan mereka, yang semula sangat mudah mengais rizki dengan bermodal keahlian. Bahkan kini sudah banyak yang mulai beralih profesi dan sebagian lagi nekat kembali berdagang di jalan meski resiko tinggi harus dihadapi. Untuk mereka yang masih mau bersabar hanya bisa berusaha sekuat tenaga dan menyerahkan nasibnya kepada do’a. Bukan berputus asa namun memang ini yang bisa mereka jalani, manisnya Pasar Karimata hanya bisa dinikmati oleh mereka yang bermodal besar. Harapan mereka hanaya satu, semoga pemerintah mau memperhatikan mereka denga cara penataan pasar dan promosi agar pengunjung kembali minat untuk datang ke Pasar Karimata dan mereka kembali bisa bernafas sedikit nyaman menafkahi keluarganya. Itu saja harapan dari mereka saat ini, tidak lebih dan tidak lain hanya untuk menyambung hidup mereka. Obbz/1/Desember/2016

Jika anda ingin diliput secaa exclusif dan masuk Media.Ronggolawe tentang breeding, perawatan, atau sekedar berbagi pengalaman mengenai dunia perburungan bisa meng hubungi kontak di bawah ini.

Comments

comments

You must be logged in to post a comment Login